Ekonomi Dan Bisnis

Dari Lokal ke Global: GUT Buktikan Kemampuan Engineer Indonesia di Proyek Luar Negeri

8
×

Dari Lokal ke Global: GUT Buktikan Kemampuan Engineer Indonesia di Proyek Luar Negeri

Sebarkan artikel ini

Jurnalhukum.My.Id / Jakarta – PT Graha Usaha Teknik (GUT) menegaskan bahwa transisi energi di Indonesia bukan sekadar perubahan dari sumber energi konvensional menuju energi yang lebih bersih. Lebih dari itu, momen ini merupakan peluang besar bagi perusahaan nasional dan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia untuk “naik kelas” dan bersaing di kancah global.

 

Komitmen tersebut ditegaskan GUT melalui partisipasinya dalam The 12th IndoEBTKE Conference & Exhibition (IndoEBTKE ConEx 2026) yang berlangsung pada 2–4 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Mengusung semangat “Powering Indonesia’s Energy Transition Through Reliable Solutions and Sustainable Innovation”, GUT hadir untuk menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan ekosistem yang kuat, mulai dari engineering, jaringan transmisi, gardu induk, sistem kelistrikan, konstruksi, commissioning, pemeliharaan, hingga investasi dan tenaga profesional berstandar tinggi.

 

Pemerintah Indonesia telah memberikan arah yang semakin jelas melalui Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Arah ini diperkuat oleh Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034, yang menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW hingga tahun 2034, dengan sekitar 76 persen berasal dari Energi Baru Terbarukan (EBT) dan sistem penyimpanan energi.

 

Implementasi RUPTL tersebut diperkirakan akan menciptakan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja baru. Bagi GUT, angka ini bukan hanya statistik pertumbuhan sektor energi, melainkan bukti konkret adanya peluang bagi industri nasional untuk tumbuh bersama.

 

“Transisi energi bukan hanya berbicara tentang sumber energi yang baru. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana energi itu dapat dibangun, dihubungkan ke sistem kelistrikan, diuji, dioperasikan, dan dipelihara secara andal,” ujar Kuswanto Rahayu, Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional PT Graha Usaha Teknik.

 

Kuswanto menambahkan, pengalaman GUT dalam bidang Engineering, Procurement, Construction and Commissioning (EPCC) pada sistem tegangan rendah, menengah, hingga tinggi, serta pekerjaan substation dan jalur transmisi, harus terus berkembang mengikuti kebutuhan masa depan. “Bagi kami, transisi energi adalah kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk naik kelas,” pungkasnya.

 

GUT telah membuktikan kapabilitasnya melalui berbagai proyek strategis, termasuk EPCC pada Jalur Transmisi 150 kV East Bali Solar Power Plant 25 MWp, pekerjaan transmisi dan substation di Sorik Marapi Geothermal, serta konstruksi dan commissioning di Ulubelu Geothermal Power Plant.

 

Selain aspek infrastruktur, transisi energi skala besar membutuhkan ribuan insinyur, teknisi, supervisor, dan tenaga profesional baru. Abdul Hamid, Direktur Teknis PT Graha Usaha Teknik, menekankan bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja harus dibarengi dengan peningkatan kualitas.

 

“Kita jangan hanya bicara mengenai berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana tenaga kerja tersebut mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan standar kerja sehingga kompetensinya terus meningkat,” ujar Abdul Hamid.

 

Menurutnya, SDM lokal tidak boleh terjebak pada stigma kualitas yang hanya untuk kebutuhan lokal. “Engineer dan teknisi Indonesia harus mampu bekerja dengan standar internasional. Target kami adalah melahirkan semakin banyak tenaga ahli Indonesia yang kompetensinya dapat diterima dan dipercaya di mana pun mereka bekerja,” tegasnya.

 

Semangat ini telah menjadi DNA GUT sejak didirikan, yakni memberikan ruang bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kemampuan profesional menuju visi sebagai perusahaan EPC dan pemeliharaan berkelas dunia. Bukti nyata dari kemampuan SDM Indonesia telah ditunjukkan melalui portofolio internasional GUT, seperti pekerjaan electrical commissioning pada Sondu Miriu Hydropower Plant di Kenya, serta suplai dan instalasi panel kontrol relay untuk Loyang Substation di Singapura.

 

“Inilah yang kami maksud dengan SDM lokal yang mendunia. Kita membangun kompetensinya di Indonesia, memberikan pengalaman nyata di proyek, kemudian membawa kemampuan tersebut untuk bersaing di tingkat internasional,” tambah Abdul Hamid.

 

Dari sisi pasar, Agung Sutiastoro, Direktur Marketing PT Graha Usaha Teknik, melihat perubahan industri energi global sebagai pintu masuk bagi perusahaan Indonesia untuk memperluas peran.

 

“Dunia membutuhkan semakin banyak infrastruktur energi yang reliable, efficient, dan sustainable. Pertanyaannya adalah: apakah Indonesia hanya akan menjadi pasar, atau kita juga menjadi bagian dari perusahaan yang mengerjakannya?” tanya Agung.

 

Agung meyakini bahwa kebutuhan dengan standar internasional dapat dikerjakan oleh anak negeri. Namun, hal ini memerlukan proses panjang dalam membangun kepercayaan pasar melalui disiplin terhadap kualitas dan keselamatan kerja (safety), serta keberhasilan pelaksanaan proyek. “Kita ingin suatu saat ketika pasar internasional membutuhkan kemampuan engineering, konstruksi, atau commissioning, perusahaan dan tenaga ahli Indonesia menjadi salah satu pilihan mereka. Anak negeri harus percaya bahwa kita mampu,” pungkas Agung.

 

Ambarlin Widanarti, Direktur Keuangan PT Graha Usaha Teknik, menyoroti aspek ekonomi dari transformasi ini. Menurutnya, transisi energi harus menghasilkan aktivitas ekonomi yang nyata.

 

“Transisi energi harus menghasilkan economic activity yang nyata. Investasi masuk, proyek bergerak, perusahaan nasional mendapatkan kesempatan, vendor dan industri pendukung tumbuh, serta tenaga kerja terserap,” ujar Ambarlin.

 

Keterlibatan perusahaan nasional dalam pembangunan sektor energi memiliki efek berganda (multiplier effect) yang luas, menghidupkan kontraktor, supplier, manufaktur lokal, hingga jasa profesional. “Semakin sehat perputaran ekonominya, semakin kuat pula kemampuan kita untuk mendukung program pemerintah secara berkelanjutan,” tambahnya.

 

Bagi PT Graha Usaha Teknik, transisi energi memiliki tiga dimensi yang tidak terpisahkan: Energy Transition (Transisi Energi), Industrial Growth (Pertumbuhan Industri), dan Human Capital Development (Pengembangan Modal Manusia).

 

Ketika investasi energi baru masuk, infrastruktur harus dibangun. Ketika infrastruktur dibangun, perusahaan nasional mendapat kesempatan berkembang. Dan ketika perusahaan nasional berkembang, semakin banyak engineer dan tenaga profesional Indonesia yang mendapatkan pengalaman berstandar global.

 

“Bagi GUT, transisi energi bukan hanya perubahan tentang bagaimana Indonesia menghasilkan energi. Ini adalah kesempatan untuk membangun kemampuan bangsa – agar perusahaan Indonesia naik kelas, SDM Indonesia naik kelas, dan pada akhirnya Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam industri energi dunia,” tutup Kuswanto Rahayu.

 

(Red/ Jaya Putra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *